
Memasuki hari ketiga gelaran Pesantren Ekologi, suasana khidmat menyelimuti ruang pertemuan saat Lenda Juliany, S.Pd. memaparkan materi inti mengenai esensi eksistensi manusia di dunia. Bukan sekadar teori lingkungan biasa, sesi kali ini menjadi momen refleksi mendalam bahkan “tamparan” keras bagi ego manusia dalam memandang alam semesta.
Bukan Penguasa, Melainkan PenjagaDalam paparannya, Lenda menekankan bahwa mandat manusia sebagai Khalifah fil Ardh sering kali disalahartikan sebagai lisensi untuk menguasai dan mengeksploitasi isi bumi tanpa batas.”Menjadi Khalifah adalah sebuah amanah peran sebagai ‘wakil’ atau penjaga. Tugas utamanya adalah memastikan setiap jengkal tanah, setiap tetes air, dan setiap makhluk hidup tetap berada dalam keseimbangannya,” ujar Lenda Juliany.
Lebih lanjut, materi tersebut menyoroti fenomena krisis iklim hingga hilangnya keanekaragaman hayati bukan sebagai bencana alam semata, melainkan dampak nyata dari kelalaian manusia dalam mengemban tugas kepemimpinan.Menurut Lenda, saat alam menderita, sebenarnya ia sedang mengirimkan sinyal bahwa sistem kepemimpinan dan pola pikir manusia sedang bermasalah.
Ketidakseimbangan ekosistem adalah bukti otentik dari pengabaian tanggung jawab moral manusia terhadap Sang Pencipta.Hari ke-3 ini sukses meninggalkan kesan bahwa menjaga lingkungan bukan lagi sekadar hobi atau tren aktivisme, melainkan bentuk ibadah dan konsekuensi logis dari status kita sebagai manusia.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Program Pancawaluya, sebuah inisiatif integratif yang berkomitmen menyelaraskan nilai-nilai spiritualitas dengan pelestarian lingkungan. Melalui mandat sebagai Khalifah, program ini mengajak kita untuk menjaga keseimbangan alam demi kemaslahatan umat dan keselamatan semesta
iih



