
Memasuki hari keenam pelaksanaan Pesantren Ekologi, SMA Roudhotul Ilmi kembali menggelar sesi edukasi lingkungan yang mendalam. Berbeda dari hari-hari sebelumnya, pemaparan materi kali ini dibawakan oleh perwakilan siswa kelas 12, Mutia Salsa Bila dan Melisa Fitriani, yang mengangkat tema : “Krisis Lingkungan Akibat Perilaku Manusia.”
Dalam presentasinya, Mutia dan Melisa menekankan bahwa krisis lingkungan, terutama banjir yang kerap melanda pemukiman, bukanlah sekadar fenomena alam semata. Mereka menyoroti bahwa tumpukan sampah yang tidak terkelola merupakan “suara protes” dari alam atas kelalaian manusia.

Seperti yang tertera di dalam kitab suci Al-Qur’an surat Ar-Rum : 41 “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).“
“Seringkali kita memandang banjir sebagai takdir atau siklus musim yang tak terprediksi. Namun, kita harus jujur bahwa di balik genangan air tersebut, ada jejak tangan kita melalui sampah yang kita buang sembarangan, seperti yang tertera pada ayat diatas.” ujar Mutia di hadapan para peserta. Tidak hanya memaparkan masalah, kedua pemateri ini juga memberikan solusi praktis yang bisa diterapkan oleh seluruh santri dan warga sekolah.
Mereka mengajak siswa SMA Roudhotul Ilmi untuk mulai disiplin dalam memindai dan memilah sampah antara organik dan non-organik langsung dari sumbernya. Melisa Fitriani menambahkan bahwa tindakan sederhana seperti memilah sampah bukan hanya soal kebersihan, melainkan bentuk tanggung jawab bersama. Kegiatan hari ini berhasil menciptakan atmosfer yang baik di lingkungan SMA Roudhotul Ilmi. Para siswa diajak untuk berhenti menjadi penonton di tengah krisis iklim dan mulai mengambil peran aktif sebagai bagian dari solusi.
Melalui Pesantren Ekologi ini, SMA Roudhotul Ilmi berharap para siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan spiritual terhadap kelestarian alam. Gerakan memilah sampah ini diharapkan menjadi budaya baru yang terus berlanjut bahkan setelah program pesantren berakhir.



