
Memasuki hari ke-13 pelaksanaan Pesantren Ekologi, suasana khidmat menyelimuti aula pertemuan saat sesi materi pagi dimulai. Ada yang berbeda pada sesi kali ini, di mana pemateri kali ini perwakilan santri dari kelas XI yaitu, Siti Robiatul Adawiyah.
Dalam penyampaiannya yang menggugah, Siti Robiatul atau yang akrab disapa Adwy, membawakan tema yang segar mengenai pengelolaan harta dari sudut pandang islam. Ia membuka materi dengan sebuah pertanyaan yang mendalam: “Sudahkah harta kita bernapas?” Robiah menjelaskan bahwa dalam konsep ekologi Islam, infaq bukan sekadar aktivitas memberi secara materi. Ia mengibaratkan infaq sebagai proses detoksifikasi harta.
“Seperti air yang mengalir, infaq berfungsi membersihkan sisa-sisa yang sejatinya bukan milik kita. Dengan mengeluarkan infaq, rezeki yang tersisa di tangan kita menjadi lebih murni, bersih, dan mendatangkan keberkahan bagi kehidupan.” paparnya di hadapan para santri.
Lebih lanjut, materi berfokus pada sedekah sebagai bentuk investasi keberlanjutan. Di hadapan rekan-rekan sejawatnya, Robiah menekankan bahwa sedekah adalah satu-satunya investasi yang tidak mengenal masa kedaluwarsa. “Saat raga kita suatu saat nanti tak lagi mampu melangkah, sedekah yang tulus akan terus bekerja. Ia akan mengalirkan pahala tanpa henti, persis seperti mata air yang tak pernah kering meskipun musim berganti.” tambahnya.
Kegiatan materi hari ke-13 ini ditutup dengan ajakan bersama untuk memanfaatkan momentum bulan suci Ramadan sebagai waktu terbaik untuk “mencuci” harta dan hati. Melalui program Pesantren Ekologi ini, diharapkan para santri tidak hanya peduli pada kelestarian alam secara fisik, tetapi juga kelestarian amal jariyah melalui praktik infaq dan sedekah yang konsisten.Sesi ditutup dengan komitmen bersama para santri untuk memperbanyak sedekah sebagai wujud nyata dari keshalehan sosial dan lingkungan.



